Outreach Children Ministry at Punggur

Standard

As I prepare teaching lesson for children ministry, I search my lesson material on my blog. While I opened my blog, I noticed that it has been long time I haven’t post any sharing or story. Last time I posted on January of this year. Now, it almost the end of 2015 and somehow in my heart really want to post stuffs on my blog again. Since, I did foolish and careless thing as a writer which made me felt so down and abstain to post anything. However, this month I decided to get up and stop feeling guilty and so wrong about the past.

 

So, welcome to my blog and thank you for visiting. Here I’m back with much of gracious stories from my life.

 

I ought to share about my last children and youth ministry at my sister church (GTI Bukit Zaitun Batam). It was such a great blessing that I can partake God’s ministry here at Batam. I’m not only as intern student or student-teacher but I get opportunity to richly experience and learn in every weekend about children ministry especially how to deal children with low social economic background and different ways of life style.

            One thing I really from me: whatever state I am and condition that I face, it is important to be faithful in serving the Lord. Faithful in the term of being responsible in what God and His church have trusted me to be. Whether I felt sad, angry, or happy I learn to exhort myself to be faithful and consistently help children ministry at Punggur (an area at Batam). At first, I kind of take it lightly this ministry and seem there is no essential problem. However, over the time I notice that there’s much chaotic among them and how my heart respond not that right every time children had hard time to listen and pay attention. It’s a challenge for me to calm 90-100 children every Saturday while the time of praise and worship. In the view of God’s grace, I always experience joy in His presence as I led praise and word. Whatever, week I had been through which can affect my emotional those will not consume my joy in serving God. As I remember Scripture in Nehemiah 8:10 b (ESV) “And do not be grieved, for the joy of the LORD is your strength.” In every up and down of my life, those can’t hinder my zealous spirit in serving the Almighty God. Believing that the joy of the Lord in His presence in my only strength. A strength to be a blessing to those children also a strength whenever I led praise and worship, and tell them Bible story in classes.

            Personally, what I experienced it’s not just a grace but spiritual miracle inside of me. To have a heart of serving even though sometimes struggling in my physically or emotionally limitations. There’s always price to pay in serving Him. God purified my heart rather than my physical present in that Sabtu Ceria. God opened my eyes to see with compassionate those children who really need the truth of the Gospel and how Gospel need to be applied in their lives. They need much knowledge about who God is and how God is in their lives. So, may the renewing of their minds affect their attitudes and behaviors and they can be called children of God. This in my personal prayer that God uses this outreach children ministry at Punggur to testify His love and kindness to neighborhood there so they can know who God is and believe Jesus as their only Savior. 

Saat Teduh 06 Jan 2015

Standard

“AWAL MULA PELAYANAN”
Matius 4-6

•Matius 4:1-2  Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
–> Hal ini menarik dan bila dihubungkan dengan ayat sebelumnya pernyataan dari Allah Bapa begitu berkuasa. Pencobaan yg TY hadapi dengan penuh kuasa dan ditambah juga dengan puasa. Aku diingatkan perlunya terus bersandar pada kuasa Allah. Terus dipenuhi kuasa Allah lewat menjaga keintiman seperti saat teduh, doa, dan puasa. Puasa bikin aku makin sadar begitu lemahnya aku agar terus bersadar pada kehendak Tuhan.
•Dari 3 pencobaan dalam ayat 3-10
–> lewat contoh TY, harus melawan iblis dengan Firman Tuhan. Sekali lagi ditekankan mengandalkan kuasa Allah.
• Matius 4:16-17  bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.”
Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”
–> Setelah terus diajar taat kehendak Bapa dan mengandalkan kuasa Allah, aku diingatkan tentang pelayanan. Bagaimana dengan lewat hidupku dan perkataanku menceritakan kabar baik. Semester ini mau memperbaiki integritas yang masih kurang dan mau jadi teladan.
•Ayat 8-25 TY memanggil murid-murid yg pertama. Dia rindu menginvestasikan hidup lewat pemuridaan. Dia mengajar dan menyembuhkan banyak orang.
–> Harus makin bertumbuh juga berbuah, melipatgandakan jiwa-jiwa lewat pelayanan/pemuridaan. Aku diingatkan untuk menggunakan kesempatan & talenta untuk mengerjakan tanggungjawab di asrama jg kampus dgn beberapa org yg Tuhan bebankn untk dilayani
•Mat 5:1-12 BERBAHAGIALAH….
–> Bagi dunia mungkin hal2 yg TY katakan tidak masuk akal dan mustahil untuk mendapatkan bahagia. Aku dibukan bahwa ucapa bahagia TY tuh beda dengan manusia dgn pandangan kekal dan dinilai untuk kekekalan. Diingatkan dalam pelayanan/pemuridaan: There’s nothing is wasted! Ndak ada yg sia-sia, kalau tulus & sesuai kehendak Tuhan akan berbahagia. Siap untuk jadi garam dan terang yang menuliakan Bapa di surga (Mat 5:13-16).
–> Mat 5:17-48 Yesus & hukun Taurat
19b tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
– Terus ditekankan untuk jadi pelaku FT dan stop jadi alien (tau banyak tapi hati dan tindakan kecil)
20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
-Punyai mentalitas bahwa hidup bukan saja melakukan agamawi tetapi melakukan FT & mengasihi TY
37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
– iya.. iyaa.. kalau enggak… enggak, karena itu aku perlu peneguhan dan tuntunan Tuhan dalam mengambil keputusan hidup
41  Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
– aku diingatkan untk rela kasik yang lebih yg terbaik bukan ecek2 aja, perlu korban ingat there’s nothing is wasted dalam Tuhan
Penutup – jadi sempurna seperti Bapa di surga, ingat bukan insta tapi proses dan mau bersedia dibentuk
•Mat 6 – Secara detail TY jelaskan bagaimana dalam keseharian kita hidup untuk makin melakukan kehendak Tuhan dan terus hidup benar dalam pelayanan
1  “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
–> Jujur gampang sih ‘go with the motion’ hanya sekedar melakukan dan rutinitas bahkan dalam ibadahpun, tapi lewat FT diingatkan kalau harus terus jaga motivasi hati dan lihat motivasi yaitu cinta Tuhan bukan sekedar dilihat org
•ayat 5-24 tentang hal berdoa, hal berpuasa, hal mengumpulkan harta
–> Diingatkan bagaimana melakukan dengan rendah hati dan tulus dihadapan Tuhan. Aku harus mencondongkan hati pada Tuhan. Aku belajar koreksi diri karena hati mudah bercabang jg pikiran
25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
–> Belajar tetap percaya Allah adalah Allah El-Shadai. Dia yang mencukupi. Terus berjuang dengan pertolongan Roh Kudus untuk tidak kuatir. Cari kehendak harus menjadi prioritas hidup.

MERRY CHRISTMAS 2014 and
HAPPY NEW YEAR 2015!

Terus dukung dan doakan agar Tuhan makin memakai saya lewat blog ini.

To God be the glory

“Knowing God’s Will”

Standard

Speaker: Rev. Mitchell 👨

●How do I find the will of God?
1# Biblical angle to know God’s will
2# What is God’s will for my life?
image

●THE FOUR PART METRIC (>> How do I find the will of God?):
1) Scripture- Can you be a hired gun for killing? (Isa 30:21; Jer 6:16; Ps. 119:105)
-How do I know God’s will?
2) Counsel- Look to people who have gone before you and can see more than you ( Prov. 19:20)
3) Prayer- Do you have a peace from prayer (Ps. 55:22; 1 Pet 5:7; Phil. 4)
~to dicern the Spirit of God or not
~if you don’t have peace, please don’t act upon yourself because your heart is deceitful
~peace of God which beyond everything with lead you to understanding and right decision
4) Providence- How has God shaped you through your past? What passions has He given you? (Eph. 1:11)
~How God has process you?

●If you want to be God’s army, you need to train yourself to use the Biblical angle to know God’s will.
●What is the will of God for you NOW?
(God’s will is more about WHO you are than WHAT you do!)
1 Thess. 4:3
“For this is the will of God,…….
your sanctification: that you abstain from sexual immorality;”
●SANCTIFICATION…!
God wants you to become like Him!
No matter where He has put you…
●Eph. 5:1-2 – You were loved and to love others
●The LORD is a good shepherd, and you can trust His as He leads you ( Ps. 23). And id you trust Him, you can become like Him.
●In Christ you will find His will for you.
●God doesn’t need you.
He chose you…
He picked you…
He used you…
It’s such a grace.

Reflection: As I strive to guard my heart and to know God’s will, this sermon speaks a lot and so deep tonight.

My Testimony—Growing & Learning About God’s Heart Through Living in Dormitory

Standard

Dua tahun lebih saya mengalami hidup berasrama, dan pada tahun ketiga Tuhan memberi saya kesempatan untuk bergabung menjadi SPV untuk UPHC Girls Dormitory. Pada awalnya bukan hal yang mudah untuk sepenuhnya mengatakan iya ketika tawaran untuk melayani sebagai SPV UPHC Dormitory di tengah masa ketidakpastiaan hidup saya. Jujur dalam pikiran saya sama sekali tidak ada keinginan atau beban untuk berada di UPHC dormitory. Beban pelayanan saya makin saya fokuskan untuk anak-anak kecil dan mahasiswa, karena memang sudah lama tidak berkencimpun di dunia anak remaja. Hal ini menjadi tantangan dan pergumulan bagi saya, pada saat itu saya hanya di beri 3 hari untuk memberi keputusan. Dalam tiga hari saya memakai waktu saya sungguh-sungguh untuk bergumul di hadapan Tuhan dan juga memperlengkapi saya dengan bacaan tentang anak remaja dan juga minta arahan orang-orang yang menjadi mentor saya termasuk orang tua. Peneguhan dan damai sejahtera Allah terus menerus mengejar saya dan Dia makin menyatakan banyak hal tentang pelayanan untuk anak remaja. Satu hal yang pada akhirnya membuat saya berkata iya untuk bergabung di UPHC Dormitory yaitu: saya memahami pentingnya menginvestasikan hidup saya dalam masa pencarian jati diri anak-anak remaja di UPHC, bukan karena saya mampu tetapi Allah melihat seberapa hati saya bersedia untuk dipakai dan dibentuk dalam melayani anak-anak UPHC.

FIX_PRINT

            Selama menjadi SPV, Tuhan mengajar banyak hal hingga saya bisa banyak berefleksi salah satunya: belajar untuk melatih diri bersikap bijaksana dan tenang ketika menghadapi ketidakjujuran dan ketidaktaatan siswa. Bagaimana saya tetap mampun merespon dengan benar dan bijaksana. Secara sadar saya harus mengerti bahwa saya juga pendosa yang tidak layak tetapi mendapatkan anugerah Tuhan untuk mengasihi dan mendisiplin siswa-siswa yang dipercayakan Allah kepada saya agar mereka juga makin dikuduskan dalam pengenalan akan Allah. Proses untuk mengumulkan hati untuk mendidik atau mengajar berawal dari keseharian hidup saya ketika harus menghadapi permasalahan dan tantangan di dormitory. Aku makin melihat bahwa di dormitory lah saya mampu dengan jelas melihat miniatur sebuah kelas sesungguhnya. Kehidupan yang transparan bersama orang-orang yang setiap hari saya bertemu dan saya tetap harus belajar untuk mengasihi seperti Kristus telah mengasihi saya.

DSC03844

Jesus Never too Late to Teach Me Wisdom

Standard

#SONG: “Tak Pernah Gagal Menolong ku”

Hidup ini terasa indah

Bila kasihMu dekat bersamaku Tuhan

Tak mungkin kurasakan

Takut menghadapi semua

Hidup ini terasa tenang

Bila kuhidup dekat dengan Tuhan

Apapun boleh datang

Tuhan pasti b’riku kemenangan

Reff: Aku tahu, Yesus kumampu

Menyelesaikan setiap masalahku

Tiada sedikitpun aku ragu

Dia s’lalu menolongku

Aku tahu, Siapa Tuhanku

Dia t’lah buktikan cintaNya padaku

Yesus tak pernah terlambat

Tak pernah gagal menolongku

Reflection:

Lagu yang lama dan familiar, tiba-tiba tadi pagi waktu menyetrika terus terdengu di hatiku dan secara otomatis aku nyanyikan dan air mata mulai bercucuran. Di saat-saat sulit dan aku menyadari bahwa hal inipun berkat dan sukacita dalam melayani Tuhan walau secara mata manusia adalah penderitaan dan kesulitan yang kuhadapai. Ketika kejujuran menjadi pengharapan, di mana aku sungguh mengharapkan siswi-siswi mengatakan dengan jujur tentang kejadian sebelum study time. Aku belajar menempatkan posisiku untuk tidak menghakimi, berprasangka, maupun menuduh. Tuhan memberi ketenangan, damai sejahtera, dan sukacita bahkan ketika aku menghadapi anak-anak yang semalam tidak memilih untuk langsung jujur. Defen-mekanisme yang mereka lakukan sangat obvious dan aku bisa mengerti dengan jelas bahwa ada yg ditutupi. Satu hal pagi ini Tuhan membukakan jawaban dan sedikit kelegaan sebelum mulai Tuesday Chapel. Aku bersyukur bahwa ada satu anak yang berinisiatif untuk menceritakan mengapa mereka bersikap tidak jujur kemarin secara sengaja dan direncanakan. Ini menjadi kemenangakan dan pengharapku walaupun baru setengah jalan masalah ini terungkap.

Refleksiku sebagai pendidik di masa yang akan datang yaitu belajar untuk melatih diriku bersikap bijaksanan dan tenang ketika menghadapi ketidakjujuran dan ketidaktaatan siswa. Bagaimana aku tetap mampun merespon dengan benar dan bijaksana. Secara sadar aku harus mengerti bahwa aku juga pendosa yang tidak layak tetapi mendapatkan anugerah Tuhan untuk mengasihi dan mendisiplin siswa-siswa yang dipercayakan kepadaku agar mereka juga makin dikuduskan dalam pengenalan akan Allah. Proses untuk mengumulakan hati untuk mendidik atau mengajar berawal dari keseharian hidupku ketika harus menghadapi permasalahan dan tantangan di dormitory. Aku makin melihat bahwa di dormitory lah aku mampu dengan jelas melihat miniatur sebuah kelas dan bahkan sebuah keluarga atau rumah tangga sesungguhnya. Kehidupan yang transparant bersama orang-orang yang setiap hari aku harus belajar untuk mengasihi seperti Kristus telah mengasihiku.

Comic Reflection

Standard

10665762_10201864798016654_2974219573642033260_n

Deskripsi dan refleksi pribadi dari komik di atas

1# Depresi itu suatu yang diam-diam. Setiap orang bisa jatuh dalam depresi dan menjadi korban depresi.
2# Dan sama halnya dengan topeng. Orang menyembunyikan depresi dengan senyuman ketika melakukan berbagai aktifitas dan bertemu orang lain selalu berkata, “Aku baik-baik saja.”
3# Tidak ada orang yang mampu mendeteksi, tetapi hanya dirimu yang tahu karena menyamar itu mudah. Semakin riang gembira, makin kurang kamu prasangka
4# Tetapi tidak selamanya kamu mampu menyembunyikan hal itu.
5# Setiap orang dapat mencapai titik kehancuran atau kegagalan
6# Tetapi itu tidak apa-apa
7# Selalu ada KASIH dan DUKUNGAN dengan berbicara satu dengan yang lain, kamu akan mendapat pertolongan dan kepastian bahwa kamu perlu berjuang melalui kegagalan itu bersama-sama.
8# Jangan merasa malu! Ada orang di luar sana yang mengerti.
9# Kamu berharga…
Kamu dikasihi…
Kamu tidak sendirian…
Milikilah kesabaran terhadap segala sesuatu, tetapi yang terpenting miliki kesabaran terhadap dirimu sendiri.
10# Kemudian, lihatlah setiap hari baru sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Teman selalu ada di sini menunggu kamu.
》Sebagaimana Rasul Paulus juga menasihati jemaat Galatian (Gal. 6:1-6). Terutama nyata pada ayat 2: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Tetapi seringkali kita lebih memilih untuk menutup dengan cara kita masing-masing bagi dengan senyuman, amarah, atau yang lain. Sebenarnya yang kita menutupi gengsi, kesombongan, dan egois kita agar kita tidak terlihat rapuh dan gagal di depan mata orang. Kita takut dinilai atau dibicarakan orang lain ketika kita berada dalam kesendirian dan kegagalan kita. Mari kita belajar untuk ada transparan dan terbuka satu dengan yang lain, apalagi terhadap orang-orang terdekat yang takut akan Tuhan. Biarlah kita selalu semangat dan bersukacita untuk berjuang, berproses, bertolong-tolong bersama sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.

You are not alone. God always send someone or somebody that you never expect to comfort, encourage, and strengthen you. In fact our best helper in time of needs is the Holy Spirit and yes… God also uses people to be with you and help you too.

Be strong and always eager to grow!

PERSONAL SHARING (Kesaksian Pribadi)

Standard

The one thing that I learned: THE GOSPEL IS NOT JUST FOR THEOLOGY KNOWLEDGE, BUT IT’S ABOUT LEARNING AND EXPERIENCE THE POWER OF FATHER HEART.

Power of the Father’s heart which to forgive and save the sinners are intended for anyone, anywhere, and at any time. When I participated this mission trip either starting from Banten or Jakarta (UPH, UNTAR, Bonang, Perum, Kelapa Dua, and Serang) or Papua (Sorong town and village Seget), I saw the real power of the Gospel and how it works to strengthen, unite, change, and motivate each one of us and also a team of people that we served. Especially, in terms of love and attention to the people I met and interacted. I saw that this mission trip just a project that I did with the knowledge, ability, and greatness of me, which it  would be difficult to experience and learn the Father’s heart so love the sinner, including myself, who are also in need of God. The key issue is to love and understand others with sincere and genuine.

In every journey that I spent no day without my sense and realized that God taught me the truth about who God is, His character, His heart, and how He wants all men to be saved without them should perish in eternal hell. I began to reach out people in Banten and Jakarta, Kelapa Dua area which are very close to UPH. In the history of my life, I never stepped my foot to the mosque and meet people in them and start a conversation with them.

Our mission trip was inadvertently made ​​in the month of fasting and before I know it has been a very good opportunity to start a conversation with people in the mosque. It was my first experience to enter the mosque and told Isa Al Masih to a driver who was waiting to break his fast. These opportunities are not a strange thing for me, because in my next trip to come to the mosque and interact with Muslims in Banten. To be honest, at first, I was struggling and going inward refusal to start interacting especially if in the area or a Muslim Mosque strong. But often God taught me how to have a firm faith and strong to be able to trust that He loves the people of Banten and the working power of the Gospel to Muslims also whoever they are, wherever they are, and whenever it occurs. It is important to fill with the Holy Spirit in each of these mission trips, especially not every outing always accompany by our pastors or leaders. I am reminded of God’s Word in Luke 10: 1-24 (ESV), where Jesus sent his disciples out two by two into every city and place whither himself. Especially in verse 2-3 (ESV), “And he said to them, “The harvest is plentiful, but the laborers are few. Therefore pray earnestly to the Lord of the harvest to send out laborers into his harvest. Go your way; behold, I am sending you out as lambs in the midst of wolves.These two verses are very real when we do a mission trip to the area of Banten which although close to the UPH and even my daily commute from my dorm and met my dorm mates, but they also need the Gospel. The interesting thing I got that mission trip was not to be done in a very remote and difficult to reach places that are beyond the scope of our lives, but I realize the importance of authentic mission trip like this. It is not easy to live exclusively for teams from Indonesia and I personally value it isn’t like the ideal mission trip, but by doing so I saw that there is no distance or difference between preaching mission with my daily life and can be applied in matters simple to people around me.

After being in Banten from July 7 until July 15 we went to Sorong, Papua until July 24 we went back again to Jakarta. God does not cease to teach me His love is great to forgive and save sinners. On the way to Papua this is more my eyes were opened to the importance of studying the knowledge of the Father’s heart than just studying theology and doctrine alone. When interacting in a group of adolescents GKI Eklesia Sorong in several seminars and any three (methods to share the gospel of Jesus Christ), I tend to impose than willingly and sincerely listen, learn, and love teens in that place. It was a struggle when they do not respond and talk in group discussions and this is the case also in the village of Seget. I and my partner from Austin, we both realized that the biggest struggle is not in the Papua teens but the issue is on us. Until there is at the moment in which we have no other choice but to pray and ask for God’s guiding group discussions. Essentially, we learn to be led by the Holy Spirit and rely fully on God than relying on our own strength. I also rebuked with some of the attitudes or actions that seem forced, because sometimes my orientation is not the gospel, but to myself. The issue of pride and self-focused to be recognized was revealed in a mission trip to Papua. If I continue this testimony will be very long, but I will conclude with the statement that:

The full power of the gospel is not only for the people of Papua Banten and I have met and interacted but also for me. I was the one who actually learned a lot from this mission trip. I realize that the heart of the Father to forgive both of His children either eldest or the youngest because both are sinners.

“I am more sinful than I could ever know, but in Christ Jesus I am more loved than I could ever imagine.”

I hope my personal testimony bless brothers and sisters. God bless you.

 

(translation in Bahasa)

Satu hal yang saya pelajari yaitu: Injil bukan hanya pengetahuan teologi tetapi untuk mengalami dan mempelajari kuasa hati Bapa.

Kuasa hati Bapa yang mengampuni dan menyelamatkan orang berdosa diperuntukan bagi siapapun, di manapun, dan kapanmu itu. Ketika saya mengikuti perjalanan misi ini baik mulai dari Banten dan Jakarta (UPH, UNTAR, Bonang, Perum, Kelapa Dua, dan Serang) dan Papua (Kota Sorong dan Desa Seget), saya melihat dengan nyata bagaimana kuasa Injil itu bekerja untuk menguatkan, menyatukan, mengubahkan, dan memotivasi setiap perjalanan kami satu tim juga orang-orang yang kami layani. Terutama dalam hal mengasihi dan memperhatikan orang yang saya temui dan berinteraksi. Bila saya memandang bahwa perjalanan misi ini hanya sekedar proyek yang saya lakukan dengan pengetahuan, kemampuan, dan kehebatan saya, saya akan sulit mengalami dan mempelajari hati Bapa yang begitu mengasihi orang berdosa termasuk saya sendiri yang juga membutuhkan Allah. Isu terbesar yaitu untuk mengasihi dan mengerti orang lain dengan tulus dan apa adanya.
Dalam setiap perjalanan yang saya lalui tiada hari tanpa saya merasakan dan menyadari bahwa Tuhan mengajarkan saya kebenaran tentang siapa Allah, karakter-Nya, isi hati-Nya, dan betapa Dia ingin semua orang diselamatkan tanpa mereka harus binasa dalam api neraka yang kekal. Berawal dari penjangkauan jiwa di Banten dan juga Jakarta, mulai ke daerah Kelapa Dua yang amat sangat dekat dengan UPH. Dalam sejarah hidup saya, saya tidak pernah melangkahkan kaki saya menuju Masjid dan bertemu orang-orang di dalamnya serta memulai percakapan dengan mereka.

 

Bersama pengurus remaja Masjid, Bonang

Bersama pengurus remaja Masjid, Bonang

Bersama Pak Humid, imam dan pelaya di Masjid, Kelapa Dua

Bersama Pak Humid, imam dan pelayan di Masjid, Kelapa Dua

Perjalanan misi kami memang secara tidak sengaja dilakukan pada bulan puasa dan tanpa saya sadari hal ini telah menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memulai percakapan dengan orang-orang dalam Masjid tersebut. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk masuk Masjid dan menceritakan Isa Al Masih kepada seorang bapak supir yang sedang menunggu untuk berbuka puasa. Kesempatan-kesempatan ini bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi saya, karena dalam perjalanan berikutnya saya berantusia untuk datang ke Masjid atau berinteraksi dengan orang-orang Muslim di daerah Banten. Sejujurnya, pada awalnya, saya sangat bergumul dan terjadi penolakan dalam batin untuk mulai berinteraksi apalagi kalau di area Masjid atau Muslimnya kuat. Tetapi seringkali Tuhan mengajarkan saya bagaimana memiliki iman yang teguh dan kuat agar mampu mempercayai bahwa Dia mengasihi orang-orang Banten dan kuasa Injil itu bekerja kepada orang-orang Muslim juga siapapun mereka, di manapun mereka, dan kapanpun itu terjadi. Penting sekali untuk penuh dengan pimpinan Roh Kudus dalam setiap perjalanan misi ini, apalagi tidak setiap kali keluar untuk menjangkauan selalu didampingin oleh pendeta atau pemimpi kami. Saya teringat Firman Tuhan dalam Lukas 10:1-24 di mana Tuhan Yesus mengutus murid-muridnya berdua-dua ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Terutama pada ayatnya 2-3, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, suapay Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” Kedua ayat ini sangat nyata ketika kami melakukan perjalanan misi ke daerah Banten yang walaupun dekat dengan UPH dan bahkan sehari-hari saya pulang pergi dari asrama saya, tetapi mereka juga membutuhkan Injil. Hal menarik yang saya dapatkan bahwa perjalanan misi itu tidak harus dilakukan di tempat yang amat jauh dan ke tempat yang sulit dijangkau yang berada di luar lingkup kehidupan kita, tetapi saya menyadari pentingnya perjalanan misi yang autentik seperti ini. Memang tidak mudah untuk dijalani secara khusus bagi tim dari Indonesia dan menurut saya pribadi tidak seperti perjalanan misi yang ideal, namun dengan demikian saya melihat bahwa tidak ada jarak atau perbedaan antara misi pengabaran Injil dengan kehidupan saya sehari-hari dan dapat teraplikasikan dalam hal-hal yang sederhana kepada orang-orang sekeliling saya.Injil itu penuh kuasa tidak hanya untuk orang-orang Banten dan Papua yang saya temui dan berinteraksi tetapi juga untuk saya. Saya lah yang malah belajar banyak dari perjalanan misi ini. Saya menyadari bahwa hati Bapa mengampuni kedua-dua anak-Nya baik yang sulung maupun yang bungsu karena kedua-duanya adalah pendosa.            Setelah berada di Banten dari tanggal 7 Juli hingga 15 Juli kami berangkat ke Kota Sorong, Papua hingga 24 Juli kami kembali lagi ke Jakarta. Tuhan tidak berhenti untuk mengajarkan saya akan kasih-Nya yang besar untuk mengampuni dan menyelamatkan orang berdosa. Dalam perjalanan ke Papua inilah mata saya makin dicelikkan pentingnya untuk mempelajari pengetahuan akan hati Bapa dibandingkan hanya mempelajari teologi dan doktrin saja. Ketika berinterkasi dalam kelompok remaja GKI Eklesia Kota Sorong dalam beberapa seminar dan pembelajaran tiga saja (methode untuk memberitakan Injil mengenai Isa Al Masih), saya cenderung untuk memaksakan dibandingkan dengan rela dan tulus mendengarkan, mempelajari, dan mengasihi remaja-remaja di tempat itu. Suatu pergumulan ketika mereka sama sekali tidak merespon dan berbicara dalam kelompok diskusi dan hal ini terjadi juga di Desa Seget. Saya dan partner saya dari Austin, kami berdua menyadari bahwa pergumulan terbesar bukan pada remaja-remaja Papua tersebut melainkan isu itu ada pada kami. Hingga ada di saat di mana kami tidak memiliki pilihan lain selain berdoa dan meminta Tuhan yang menuntun diskusi kelompok. Intinya kami belajar untuk dipimpin oleh Roh Kudus dan bergantung penuh pada Allah dibandingkan bersandar pada kekuatan kami sendiri. Saya pun tertegur dengan beberapa sikap atau tindakan yang terkesan memaksa, karena terkadang orientasi saya bukan pada Injil tetapi pada diri saya. Isu kesombongan dan ingin mendapat pengakuan sangat terungkap dalam perjalanan misi ke Papua. Bila saya teruskan kesaksian ini akan menjadi sangat panjang, tetapi saya akan menyimpulkan dengan pernyataan bahwa:

 

“Saya lebih berdosa dari apa yang saya dapat ketahui, tetapi di dalam Kristus Yesus saya lebih dikasihi dari apa yang dapat saya bayangkan.”

Semoga kesaksian pribadi saya memberkati saudara-saudari sekalian. Tuhan Yesus memberkati.

 

Bersama Silvi, anak SMP kelas 1 di daerah, Perum

Bersama Silvi, anak SMP kelas 1 di daerah, Perum

Bersama ibu-ibu di daerah Bonang

Bersama ibu-ibu di daerah Bonang

Anak-anak di keraton Islam, Serang

Anak-anak di keraton Islam, Serang

Penampilan remaja GKI Eklesia, Kota Sorong, Papua

Penampilan remaja GKI Eklesia, Kota Sorong, Papua